Mei 03, 2018

Nyanyi Lagu Daerah, Mengenang Masa Kanak-kanak

by , in


Nonton pentas seni selalu menyenangkan bagi yg memang suka. Waktu masih mahasiswa, selama 4 tahun++ kuliah, aku gak pernah absen nonton Gebyar Nusantara (Genus). Sebuah pertunjukan seni dari masing-masing daerah di Indonesia. Dimainkan oleh mahasiswa yg tergabung dalam OMDA, mengolaborasikan permainan alat musik tradisioanal, tarian adat, sedikit lakon dan tentu saja kostum serta riasan yg membuat pemainnya makin menawan.

Di IPB, ada yg namanya Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA).  IPB didesain menampung mahasiswa dari berbagai macam daerah dari Sabang sampai Merauke melalui program USMI. Setiap tahunnya, biasanya bulan September, melalui BEM KM IPB digelarlah pertunjukkan seni budaya dari masing-masing Omda ini. Rangkaian acaranya selain pertunjukan seni--biasanya tari, drama musikal dan sejenisnya--ada juga lomba masak makanan daerah, stand galeri daerah, putra-putri Omda, dan baru-baru ini juga ada parade maskot daerah -- arak-arakan orang menggunakan kostum yg didesain sesuai kekhasan daerah masing-masing, semacam Jember Fashion Carnival. Acaranya seharian dan puncaknya di malam hari, akan ada penampilan seluruh putra-putri Omda dan 3 penampil pertunjukan malam. Biasanya sih ini jadi kompetisi tersendiri untuk Omda biar bisa tampil di malam puncak Genus. Sepertinya kapan-kapan harus ditulis juga ttg Gebyar Nusantara yg tahun lalu (2017) dihadiri oleh Kevin Liliana, Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2017 dan berkontribusi dalam pemilihan putra putri Omda. Hey you guys, anak-anak IPB, kalau denger lagu Serasa-nya Chrisye pasti ingat Genus khaan? *theme song wajib GENUS* Wkwkwk.

Meski tak sebesar perhelatan Pasar Seni ITB -- ya iyalah kan ada anak Fakultas Seni di sono -- Genus tetep punya tempat tersendiri kok di hati <3


Sangking hausnya akan pertunjukkan seni, sekalinya ada kesempatan, langsung bilang: yuk cabs!
Ceritanya, kelompok penggiat seni Fakultas Ryal menggelar pementasan seni tahunan. Tahun ini (2017), mereka yg tergabung dalam Pojok Seni Tarbiyah (POSTAR), menggelar Pentas Tunggal POSTAR 2017 dengan judul Ansambel Musik Kenang Kumara.

Awalnya kami bermaksud mengajak dan datang bersama teman-teman, tapi karena satu dan lain hal --mungkin sudah bosan dengan pertunjukkan yg konsepnya sama tiap tahunnya -- kami akhirnya datang hanya berdua. Ehtapi ketemu juga teman-teman lain yg masih antusias untuk menikmati pertunjukan seni ini. Mungkin karena memang suka atau karena pernah jadi bagian dari kelompok penggiat seni itu.

Da aku mah apa atuh, cuma suka. Nyanyi fals, badan gak luwes, gak pinter acting, sekalinya ikut lomba di kampus ya cuma lomba senam aerobik tingkat departemen (jurusan), wkwk, itu bukan seni ya?




--


Ansambel Musik Kenang Kumara menyuguhkan pagelaran musik dipadukan dengan tarian dan teatrikal. Pagelaran musiknya juga keren abis karena menggabungkan musik modern dengan musik tradisional, jadi ada karawitan dan degungnya juga lho, plus marawis. Ohya, ada paduan suara, juga mba-mba (4 orang) yg nyanyi solois gitu. Suaranya bagus, mungkin bisa ikut Indonesian Idol.

Setelah di-googling dan cek KBBI, begini perbedaan degung dengan kawaritan. Degung itu nama alat musik yg biasa dimainkan masyarakat Sunda, katakanlah salah satu nama perangkat gamelan Sunda. Sedangkan karawitan itu seni gamelan dan seni suara yg bertangga nada slendro dan pelog, katakanlah ada orang nyanyi (nyinden) diiringi permainan gamelan. Kemudian, karawitan itu bukan cuma Jawa aja, tapi ada Sunda dan Bali.

Nah ini, aku pernah ikut lomba karawitan pas jaman SD, ha-ha-ha. Jelas bukannya yg nyinden. Main perangkat gamelan yg namanya Saron. Tadinya mau main Bonang Panerus, tapi karena gak bisa ngimbangi Bonang Barung, dipindah ke bagian yg bisa aja :3 Googling aja ya bentuknya kek mana.
Pas lomba didandani pake sanggul gitu, hi-hi-hi.


--


Tema Pentas Tunggal POSTAR ini mengangkat lagu-lagu daerah. Selama pertunjukkan kita dibuat mengenang lagu-lagu yg pasti akrab di telinga kita pas jaman SD. Dari lagu Tokecang, Ampar-ampar Pisang, hingga Apuse. Lagu-lagu yg disajikan lengkap dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Timor-timur hingga Papua.

Berikut beberapa judul lagu yg ditampilkan dalam pertunjukkan ini:
-          Hompipa (Jawa Barat) cipt. NN
-          Cingcaripit (Jawa Barat) cipt. NN
-          Cingcangkeling (Jawa Barat) cipt. NN
-          Tokecang (Jawa Barat) cipt. NN
-          Injit-injit Semut (Jambi) cipt. NN
-          Rasa Sayange (Maluku) cipt. NN
-          Ampar-ampar Pisang (Kalimantan Selatan) cipt. NN
-          Lagu Cinta untuk Mama, cipt. Seli Pontoh
-          Apuse (Papua) cipt. NN
-          Desaku (NTT) cipt. NN
-          Naik-naik ke Puncak Gunung (Maluku) cipt. NN
-          Anak Kambing Saya (NTT) cipt. NN
-          Kampuang Nan Jauh Dimato (Sumatera Barat) cipt. NN
-          Layang-layang (Sulawesi Tenggara) cipt. NN
-          Pulau Bali, cipt. Tony Hawaii
-          Burung kakak Tua (Maluku) cipt. NN
-          Potong Bebek Angsa (Timor-timur) cipt. NN

Ada judul lagu yg asing? He-he-he. Kalau penasaran, cari tahu aja di google.

Beberapa lagu dinyanyikan medley, ada juga yg dinyanyikan satu lagu utuh sendiri. Disajikan dalam aransemen yg apik, entah itu vocal group atau dinyanyikan sang solois; diiringi musik modern, tradisional atau campuran keduanya. Beberapa lagu dibuka dengan aksi treatrikal dan disuguhkan bersama tarian daerahnya.

Ohya, kok tiba-tiba ada lagu “Lagu Cinta untuk Mama”? Karena pentas ini mengajak adik-adik kita (mungkin masih duduk di bangku SD) untuk tampil dan menyanyi di atas panggung. Salah satunya menyanyikan lagu tersebut. Makanya tak heran kalau di bangku penonton ada sejumlah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Mungkin orangtua dari adik-adik tersebut, atau mungkin orang tua dari mahasiswa yg tampil (?)


--


Pesan yg ingin disampaikan oleh panitia penyelenggara: perkenalkanlah dan hidupkan lagi lagu-lagu daerah pada anak-anak. Biasanya anak-anak kenal lagu daerah sambil bermain permainan daerah. Permainan daerah dirasa sudah mulai hilang dan tak lagi dikenal tergantikan game digital. Padahal kebanyakan permainan daerah mengajarkan anak-anak untuk bersosial, bermain bersama teman, berhitung sampai nilai sportivitas. Pun lagu daerah, memiliki makna mendalam meski liriknya sederhana.

Kayak ibuk Kirana itu lho, meski tinggal di Oman, tapi pas masih piyik kinyis-kinyis Kirana udah dikenalkan lagu Indonesia dan lagu daerah. Gitu ya, calon buk-ibuk. Nanti diajarin anak-anaknya kenal dan suka sama budaya Indonesia yg beragam *sambil ngaca*


--


Kami berdua pun pulang dengan rasa bahagia atas kenangan masa kanak-kanak yg telah direkonstruksi ulang oleh POSTAR melalui pementasan seni tadi.
Terima kasih. Sukses terus untuk kalian!
Kami tunggu karya kalian di tahun 2018.

Salam dari kami berdua si penikmat seni.


--


Dalam pamflet yg diberikan panitia, tertulis sebuah sajak sebagai berikut:

Doderi Papua
Oleh: Khairunnisa
Sa lahir ding besar di tanah Papua
Sa pu pace, mace, ada di sana
Sa mo pigi ini bukan untuk mencari dosa
Sa pu sodara ajak sa untuk mengejar angan menggapai mimpi
Nene bilang “Sudah sana pergi cari hal baru!”
Sa pu sodara datang jemput asa di teluk Doderi
Dan Nene bilang “Sudah tak usah seberang pulau.”
Sa pu mimpi ada buat Papua
Izinkan sa sebut nama baki pase
Sa pamit deng lambai tangan buat pace deng mace
Isi hati, sa cinta tanah Papua, Indonesia
Sa pu mimpi, di tanah Doderi, untuk Papua sa pu Doderi.

Mei 03, 2018

Aksi Kamisan: Diam Hitam di Depan Istana Presiden

by , in



Demo atau unjuk rasa di pikiranku memiliki kesan identik dengan anarkisme atau kekerasan, awalnya. Makanya dulu sama sekali tak tertarik untuk melakukan hal itu, bahkan sekadar bersinggungan apalagi ikut-ikutan.
Sudut pandangku terhadap sebuah ’aksi’ berubah sejak tau dan pernah ikut Kamisan di pertengahan tahun 2016 lalu.


Aksi Kamisan adalah sebuah bentuk protes penuntutan keadilan atas terjadinya kejahatan pelanggaran HAM. Kasus apa saja yg mereka perjuangkan? Tragedi kemanusiaan 1965/66, Penghilangan/Penculikan Aktivis 1997/1998, Tragedi Kerusuhan Mei 1998, Penembakan Mahasiswa Trisakti 1998, Tragedi Semanggi I/II, Pembunuhan Cak Munir, Penyiraman Air Keras Novel Baswedan dan berbagai tragedi kemanusiaan lain. Mereka yg tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK) memulai aksinya setiap hari Kamis sejak 18 Januari 2007.

Slogannya: Aksi Kamisan Diam Hitam di Depan Istana Presiden. Mengartikan aksi damai ini dilakukan dalam bentuk berdiri diam di depan Istana Negara, biasanya sejak pukul 16.00-17.00. Identik dgn drescode warna hitam dan pemasangan sejumlah payung hitam bertuliskan kasus-kasus HAM. Setiap Kamisan, dibuat surat terbuka untuk presiden yang isinya berkolerasi dengan isu pekan itu.

Aksi ini meski sudah berumur 11 tahun (di tahun 2018), masih dan akan terus ada selama pemerintah dianggap belum mampu menuntaskan dan memberikan keadilan pada kejahatan pelanggaran HAM masa lalu maupun saat kini. Keberadaan mereka setiap kamis adalah wujud perjuangan ini masih ada meski terkadang dibarengi rasa pesimistis.


Sumarsih, perempuan berambut putih yg terlihat selalu ada berdiri di sana. Beliau adalah ibu dari Norman Irawan (Wawan), salah seorang mahasiswa Universitas Atma Jaya yg tewas saat peristiwa Semanggi I. Selama bertahun-tahun beliau berjuang menuntut keadilan atas kematian putranya. Pun sampai sekarang, meski menurut pengakuannya, tak ada perkembangan yg berarti dalam penuntasan kasus tersebut. Jokowi dianggap masih memprioritaskan program-program pembangunan infrastruktur, sedang soal penuntasan kasus HAM belum menjadi prioritasnya.


Ibu Sumarsih & Ryal di Kamisan-454


I realized the limitation of my knowledge to the historical events of this country. Here I try to write what I read about it and I will try to find out more later.

Tragedi Semanggi I.
Tahun 1998. Peristiwa besar terjadi di negara Indonesia. Waktu itu usiaku masih 5 tahun, masih tak tahu apa-apa, menyadari sampai dua tahun terakhir masih belum mau peduli dgn hal-hal itu, dan sekarang masih mencoba mencari tahu dari berbagai macam sumber.

Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998 setelah banyak aksi demonstrasi, kerusuhan dan kekacauan politik, ekonomi dan militer, digantikan oleh wakilnya Habibie. November 1998, Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) menggelar Sidang Istimewa MPR, sidang yg dilakukan jika presiden dianggap melanggar UUD 1945 dan menyimpang dari GBHN, kali ini membahas agenda pemerintah untuk melakukan percepatan pemilihan umum.

Masyarakat dan mahasiswa bergolak karena tidak mengakui pemerintahan BJ Habibie, tidak percaya dgn anggota DPR/MPR Orde Baru serta menentang dwifungsi ABRI/TNI. Sepanjang dilakukannya Sidang Istimewa MPR, masyarakat dan mahasiswa bergabung melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lain. Di Jakarta, aksi demostrasi ini dihadang oleh penjagaan militer, brimob dan pengamanan swakarsa. Tak ayal, terjadilah bentrok masyarakat dan mahasiswa dgn Pamswakarsa di kompleks Tugu Proklamasi tanggal 11 November 1998.

Ribuan mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju gedung DPR/MPR tanggal 12 November 1998 dari segala arah tetapi gagal ditembus karena pengamanan sejumlah militer. Malam harinya, kembali terjadi bentrok yg menewaskan seorang pelajar bernama Lukman Firdaus. Di hari berikutnya, 13 November 1998, massa yg kembali bergerak, kembali dibubarkan oleh militer. Sejumlah mahasiswa mencoba bertahan dan terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat ketika ribuan mahasiswa sedang duduk di jalan. Saat itu beberapa mahasiswa tertembak dan meninggal. Wawan, putra ibu Sumarsih tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yg terluka di pelataran parkir kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore hingga jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan kampus Atma Jaya. Peristiwa itu menewaskan 17 orang, baik mahasiswa, pelajar SMA, anggota pamswakarsa dan masyarakat sipil. Sementara 456 korban mengalami luka-luka akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, tajam/tumpul. Selanjutnya peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Semanggi I.

Betapa besar perjuangan ibu Sumarsih menuntut keadilan atas meninggalnya putra beliau dalam kasus pelanggaran HAM 1998. Someday, I think I should read Matt or Ibunda (versi terjemahan Pramoedya Ananta Toer) by Maxim Gorky  to see another story of the struggle of a woman as a mother in a labor rebellion.


--


kamisan-454 11 Agustus 2016, dokumentasi twitter @AksiKamisan , ada aku & Ryal lho :)


Kurang lebih satu jam berdiri di depan Istana, massa aksi Kamisan berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Dipimpin oleh seorang koordinator aksi, siapapun, peserta aksi Kamisan diperbolehkan melakukan refleksi (berbicara di tengah lingkaran) atas apa yg ia pikir atau rasakan setelah berpartisipasi dalam aksi Kamisan.

Tak jarang, mereka yg mau dan berani melakukan refleksi bertutur bahwa dirinya baru pertama kali ikut Kamisan (sepertiku). Pertama kali tau dan pertama kali datang karena diajak teman.
Baru tau kalau ternyata “ada” aksi semacam ini. Sebuah aksi menuntut dan memperjuangkan keadilan. Yg bahkan tak pernah lelah dan tak pernah berhenti, meski peserta aksi tak seriuh aksi demostrasi pada momentum-momentum tertentu. Tapi selalu ada yg bertahan, selalu ada yg masih mau berjuang.

Menyadari bahwa ternyata negara ini belum sepenuhnya menunaikan kewajibannya. Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Jika kamu penasaran (dan sebaiknya penasaran), berdialoglah dgn peserta aksi lain. Biasanya akan kamu temui satu dua orangtua keluarga korban. Ceritanya bermacam-macam tapi nafas mereka satu, menuntut keadilan. Mendengar langsung cerita dari mereka yg mengalami, akan terasa lebih menggetarkan hatimu. Sejenak kau bisa bersyukur atas hidupmu yg tak sama atau mungkin lebih baik, kemudian semangat perjuangan itu akan menular.


keluarga korban pelanggaran HAM yg ikut Kamisan, dokumentasi twitter @AksiKamisan


Pria-pria pembawa kamera yg biasanya berambut gondrong sibuk mengambil gambar. Mungkin fotografer, mungkin wartawan, entah, aku tak pernah bertanya -- ya kan datengnya sama Ryal, masa lirik-lirik cowok lain, lol
Kadang ada juga orang-orang yg datang dari luar Jakarta, mahasiswa, pelajar SMA, beberapa orang LBH, KontraS, Arus Pelangi, korban 65, dan mungkin organisasi-organisasi sejenis lain yg terus aktif berpartisipasi dalam aksi ini. Keberadaan anak-anak muda dianggap sebagai sebuah optimisme bahwa masih ada orang yg mau mencoba mencari tahu, peduli, syukur-syukur ikut berkontribusi dalam advokasi keluarga korban, atau minimal menyebarluaskan keberadaan aksi ini. Kami #menolaklupa

Aksi Kamisan dikenal cukup luas, beberapa public figure pun kerap ikut berpartisipasi seperti Arie Kriting, Pandji Pragiwaksono, Melanie Subuno, bahkan musisi Efek Rumah Kaca. Beberapa lagu diciptakan musisi Simponi terinspirasi aksi Kamisan.


--


Pertama kali datang ke Kamisan tanggal 11 Agustus 2016, Kamisan-454. Masih belum sadar juga kalau ternyata tiap aksi Kamisan memiliki tema tertentu.
Hari itu saat hendak melakukan refleksi, ada aparat polisi yg mencoba menghentikan aksi kami, alasannya karena menggunakan toa atau pengeras suara, dan malah diminta pindah tempat aksi (geser ke Taman Aspirasi). Video di laman facebook Kamisan.

Refleksi terus dilanjutkan, satu dua orang baru menyampaikan pendapatnya. Orang-orang lama juga mengobarkan semangat perjuangan. Satu kalimat terikan yg berarti bagiku yg kudengar hari itu,


“Kami pemuda/pemudi Indoensia, berbahasa satu, bahasa KEJUJURAN.”


Satu kata yg baru aku tau dari Kamisan adalah impunitas yg artinya keadaan tidak dapat dipidana. Kekebalan hukum.


--


Kamisan kedua, Kamisan-458, tanggal 8 September 2016. Tema kali ini  #MerawatIngatan #12thMunirDibunuh.
Hari itu datang juga ibu Suciwati, istri almarhum Munir dan menyampaikan refleksi. Video di twitter @AksiKamisan

Said Munir Thalib atau Munir adalah seorang aktivis HAM, yg meninggal 7 September 2004, dibunuh diracun di pesawat GIA ke Belanda di usia 38 tahun. Ada lagunya, Di Udara, Efek Rumah Kaca.

Menjabat Dewan KontraS, memperjuangkan orang-orang yg hilang dan diculik pada masa lalu. Beliau membela para aktivis yg menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yg selanjutnya setelah Soeharto turun tahta, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Dirjen Kopassus Prabowo Subianto. Pollycarpus sebagai eksekutor atau pembunuh telah diadili dgn vonis 20 tahun penjara. Namun dgn banyak remisi, sekarang dia telah bebas. Sedangkan dalang kasus pembunuhan Munir hingga sekarang belum tuntas diusut pihak pemerintah.


Suciwati, istri cak Munir di Kamisan-458 


--


Terbaru, Kamisan yg aku datangi, tanggal 11 Januari 2018 lalu, Kamisan-521, 9 bulan Novel Baswedan. Seorang penyidik KPK yg disiram air keras oleh pelaku tak dikenal dan menimbulkan luka di salah satu matanya. Meski sudah mendapatkan perawatan dan kondisinya sudah membaik, tapi pemerintah terutama kepolisian seakan tidak serius mengusut tuntas kasus ini bahkan belum selesai sampai sekarang. Jika seorang penyidik, yg sedang berjuang mengungkap kasus korupsi di negara ini saja tak bisa mendapatkan perlindungan hukum yg layak, apakah memang negara tidak bisa menjamin keamanan dan perlindungan bagi tiap rakyat? Yg jelas semangat membela kebenaran tak pernah padam bagi mereka yg percaya. Justru, Novel Baswedan menjadi simbol lain atas perjuangan penegakkan kebenaran.

Dalam Kamisan-521, JSKK membuat Surat Terbuka untuk Presiden dgn tuntutan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta yg bersifat independen untuk mempercepat pengungkapan penyerangan Novel Baswedan.


--


Hingga artikel ini ditulis dan dipublikasikan, 3 Mei 2018, Kamisan menyuarakan tagar Jokowi akan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di bulan May #MayBeYesMayBeNo.
Juga banyak hal mengenai #20thReformasi yg sedang dibuat viral, mungkin lain waktu aku hendak mengulik ttg hal ini.


--


Kamisan membuka mataku mengenai kondisi negara ini yg belum sepenuhnya memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sekaligus memperlihatkan sosok-sosok yg masih punya semangat perjuangan membela haknya, memperjuangkan keadilan dan meperjuangkan kebenaran.
Walau sekali waktu aku pernah mendapat komentar: “cieeee aktivis” yg sungguh annoying. Alih-alih berkomentar, apakah tidak sebaiknya kita mulai mencari tahu lebih banyak tentang apa itu aksi, mengapa mereka melakukannya, apa yg mereka perjuangkan, apa yg mereka harapkan, apa yg bisa kita lakukan kemudian?

Aksi Kamisan juga telah digelar di berbagai kota besar di Indonesia, bisa dicari tahu lebih lengkapnya di website maupun akun twitter resminya @AksiKamisan yg sangat aktif hingga sekarang.


--


Aku hanya warga negara Indonesia biasa, yg masih ingin terus belajar, memahami dan peka dgn lingkungan serta orang lain, sedang Ryal adalah sesoorang yg berpegang pada keyakinan untuk  terus berusaha memanusiakan manusia.




Hidup Korban! Jangan Diam!
Jangan Diam! LAWAN!
Jokowi, Hapus Impunitas!








Kamisan-454
Kamisan-454
Kamisan-458
Kamisan-458
Kamisan-521
Mei 02, 2018

Berkunjung ke Garnas, Makam Soe Hok Gie dan Bentara Budaya

by , in
Misi kami: menjelajah museum di ibu kota. Sebuah ide travel-date yang Ryal cetuskan suatu waktu. Melihat dan mengamati pameran seni, meski tak mudah dimengerti. Mengunjungi tempat rekam jejak sejarah. Mengunjungi tempat yang tak banyak orang tau atau belum viral. Katakanlah kami sedang melakukan gerakan #ayokemuseum.


Sepanjang tahun 2017 dan selama aku bekerja di tempatku yang dulu, jatah liburku hanya lima kali dalam sebulan, bisa ditambah satu hari cuti. Sedihnya, diantara lima hari itu aku hanya dapat jatah satu kali hari libur di akhir pekan. Karena sistem kerjanya shift dan pembuatan jadwal dilakukan satu bulan sebelumnya, kami selalu merancang tanggal berapa mau ambil hari libur akhir pekan. Dengan keterbatasan ini, jatah mainku dengan Ryal juga cukup terdesain sedemikian rupa. Kami lebih banyak memilih untuk bermain-main di dalam kota saja.

Pernah suatu kali dalam sebuah perbincangan di atas motor, entah dalam perjalanan yang mana, kami pernah ber-ide untuk mencoba menjelajah museum yang ada di Jakarta -- Ryal lebih tepatnya, bukan kami. Nge-date keliling museum. Why not?

Kalau diingat-ingat lagi, first date kami pun ke museum. What about you?
Waktu itu Ryal mengajakku mengunjungi Galeri Nasional Indonesia (Garnas -- begitu Ryal menyebutnya), tepat dua hari setelah kami officially in relationship. Dan sebagai warga Bogor yang jarang main-main ke Jakarta, itu adalah pengalaman pertamaku ke sana.

Galeri Nasional Indonesia adalah tempat pameran karya seni rupa, seperti lukisan, fotografi, sketsa dll. Biasanya tema pameran akan berganti dalam beberapa kurun waktu tertentu. Pertama kali ke sana, aku tak ingat betul tema apa yang sedang diangkat. Yang kuingat, kami sekali berswafoto di depan sebuah lukisan (alm) Munir. Mengapa berswafoto berlatar lukisan beliau jadi istimewa? Karena beliau adalah salah seorang tokoh pembela dan pejuang keadilan di Indonesia favorit Ryal. Gak deng! Karena foto itu adalah foto pertama kami yang Ryal upload di instagram, wkwkwk.

Kedua kali main ke Garnas di bulan Agustus di tahun yang sama (2016), tema pameran sudah berganti. Karena Agustus adalah bulan peringatan kemerdekaan negara kita tercinta, tema pameran waktu itu adalah koleksi lukisan dan benda-benda seni lain milik Istana Kepresidenan RI.


Sudah satu tahun lebih kami tak berkunjung ke sana. Seru aja sepertinya mengulang rasa-rasa, mengenang sih lebih tepatnya, mengenang rasa nge-date pertama. Dalih lainnya adalah aku yang ngebet buat foto dengan background mural di Garnas yang sudah berbeda dari tahun lalu. Maka kami putuskan destinasi main-main kami di akhir pekan itu salah satunya mengunjungi Garnas.

Wkwkwk, beberapa waktu lalu aku pernah tweet tentang hal ini. Menanggapi maraknya kunjungan warga Bandung ke sebuah tempat wisata swafoto yang kontroversial karena terbukti mimiliki kemiripan dengan sebuah tempat wisata di Los Angles. Plagiasi karya seni. Tapi bukan itu poinnya. Ada sebuah artikel yang pernah kubaca mengenai kecenderungan wisatawan zaman sekarang yang lebih mengutamakan swafoto, memenuhi koleksi album galeri, yang tentunya diikuti kebutuhan untuk posting di media sosial pribadinya, dibanding menikmati liburannya.

Dalam tweet yang aku buat itu, aku mengatakan betapa bersyukurnya aku yang tidak fotogenik sehingga tak banyak menghabiskan waktu untuk berfoto, lebih baik menikmati momen.
Apakah itu relevan dg alasanku untuk berkunjung ke beberapa museum di Jakarta? Wkwkwk
Tak bisa dipungkiri, salah satu alasannya memang untuk berfoto di spot yang menarik untuk di-posting di media sosial. Semoga masih bukan yang utama. Karena seperti yang telah kukatakan, sebagai seorang non-fotogenik dan seseorang yang agak risih berlama-lama berpose di depan kamera di tempat umum, mengambil foto dilakukan hanya untuk dokumentasi pribadi, dengan tak melupakan makna liburan yang sesungguhnya.

Menikmati karya seni? Gak juga sih. Bahkan sampai berkunjung ke Jakarta Biennale 2017 dan sampai sekarang pun, aku tak cukup ahli dalam hal itu. Kadang seni itu tak mudah dimengerti, tapi tentu bisa dinikmati.
Walaupun tak ahli, sejauh ini aku memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap lukisan, gambar, tarian, paduan suara, dan seni lakon.

Kemudian apa tujuan berkunjung ke museum yang baik? 
Karena museum, galeri seni adalah sebuah tempat pameran sebuah karya, di tempat tersebut kita bisa menambah wawasan. Karya seni biasanya memiliki pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya. Bisa jadi sebuah gagasan, wujud protes atau pemberontakan, bahkan cerita sejarah. Yaa kalau belum bisa mengerti, sekadar cukup tau aja juga sudah baik.

Ohya, tema pameran saat itu, Oktober 2017, lukisan abstrak. Paham? Jelas enggak lah. 
Lukisannya sejenis dengan lukisan buatan Patrick, murid kesayangan Ryal.
Tapi di dekat lukisan biasanya terdapat penjelasan mengenai lukisan tersebut. Setelah membacanya terlebih dahulu, biasanya aku menerka-nerka gambaran lukisan abstrak itu. Mencoba memahami dan berimajinasi.


--


Destinasi kedua hari itu adalah makam Soe Hok Gie, kw.
Museum Taman Prasasti, sebuah museum terbuka, kumpulan batu nisan peninggalan kolonial Belanda, terletak di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masuk ke museum ini, pengunjung dikenai biaya Rp.5.000. Di bagian depan, kita akan melihat sepasang kereta kuda, antik. Masuk ke bagian dalam, kita bisa berkeliling mengikuti jalan setapak. Di bagian kiri, terdapat dua buah peti mati yang pernah digunakan oleh Soekarno dan Hatta. Berkeliling menyusuri jalan setapak, kita bisa melihat banyak batu nisan dengan berbagai bentuk, milik tokoh-tokoh zaman kependudukan Belanda. Ada juga tugu peringatan tentara Jepang yang gugur melawan Sekutu. Dan lain lain, dan lain lain, yang akupun tak begitu mencermati itu nisan siapa.

Satu hal yang membuat kami berkunjung kesana adalah sebuah nisan Soe Hok Gie. ‘kw’ karena menurut cerita Ryal, abu jenazah Soe Hok Gie disemayamkan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Siapa Soe Hok Gie? Seorang tokoh pergerakan mahasiswa 1960-an, sebatas itu yang kutahu.

Singkatnya, ia adalah seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang semasa hidupnya aktif menyuarakan dan melakukan pergerakan melawan tirani pemerintahan era Soekarno dan Soeharto serta PKI. Sebagai seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI ia pun aktif menulis dan beberapa artikelnya dimuat di surat kabar nasional. Dia juga suka naik gunung lho! Sayangnya, ia meninggal saat melakukan pendakian Gunung Semeru, menghirup gas beracun, tepat satu hari sebelum ulangtahunnya yang ke 27.


“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” – Soe Hok Gie


Beberapa buku Soe: Catatan Seorang Demonstran, Di Bawah Lentera Merah, Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun 1948. Hmm, sepertinya aku harus pinjam dan baca buku-buku itu dari Ryal.

Oh ya, kisah hidup Soe Hok Gie juga pernah dibuat film, digarap oleh Riri Reza. Seingatku aku baru nonton setengah :"

Apakah ini semacam wisata rohani? Berkunjung ke sebuah pemakaman untuk melembutkan hati kita yang bisa jadi sudah mulai keras melawan dunia. Nggak juga.
Sejenak mungkin iya. Tapi, yang aneh terjadi pada kami, di sana, di antara nisan-nisan itu, kami berdua duduk di bangku-bangku yang terbuat dari batu atau mungkin semen -- kupastikan bukan nisan. Lama kami berbincang mendiskusikan tentang aku, dia (Ryal) dan juga kami. Suasananya tenang, cukup rindang dan sedikit semilir angin. Sebuah rangkaian suasana yang membuat kami betah -- aneh juga bisa betah nongkrong di kuburan.

Dan baru baru ini aku sadar, yang kami lakukan seperti Ethan dan Celine di film Before Sunrise (baru nonton awal 2018).
Yes, they went to a grave, and, they talk too much. Aku belum begitu paham dengan isi obrolan mereka, mungkin harus nonton ulang beberapa kali lagi.

I realize that a light or heavy talk we did was precious thing, mengenal dan memahami satu sama lain, bahkan di mana pun tempatnya, lebih baik daripada hang out ngikutin tren dan capek-capekan–nah kan makin kayak Ethan & Celine.

Better than ngedate-di-cafe-atau-restoran-hits-dan-mahal-untuk-difoto-dan-posting-di-media-sosial juga jalan-jalan-yang-cuma-nyari-tempat-foto-bagus-dan-posting-di-media-sosial-terus-malah-bikin-capek. I mean, gak perlu melulu atau selalu seperti itu. Although, beberapa orang berbagi di media sosial untuk memperkanalkan destinasi wisata yang menurutnya layak dikunjungi.

Selain itu, kurasa kita gak perlu-perlu-banget melakukan afirmasi publik kalau kita adalah pasangan yang bahagia dan baik-baik saja.


--


Menuju sore hari, Ryal memacu sepeda motornya ke daerah Jakarta Barat. Andalan kita, Bentara Budaya Jakarta. Biasanya ada kegiatan seminar, pameran, pementasan seni dan kegiatan seni atau sastra lain.
Kali ini kami datang ke sebuah seminar bedah buku sejarah dengan narasumber Iksaka Banu, penulis buku “Semua untuk Hindia” dan “Sang Raja”.

Buku dan kisah sejarah. Ew, sebagai seorang anak IPA yang mencurahkan segenap hatinya untuk berbagai hal berjenis eksakta, (pelajaran) sejarah agaknya luput dari perhatianku. Komentar pada umumnya: membosankan. Padahal kalo ditelisik ternyata akibat belum menemukan asyiknya mengulik sejarah.

Dalam acara itu, si Bapak bercerita tentang proses pembuatan buku–novel—sejarah. Banyak riset, banyak wawancara, banyak baca sumber -- termasuk teks bahasa Belanda, karena temanya memang era kolonial Belanda -- menentukan alur dan rangkaian penulisan buku pada umumnya.

Satu hal yang aku ingat dalam diskusi itu, sejarah cenderung mengalami pengulangan. Kejadian-kejadian yang dialami manusia zaman sekarang pernah terjadi di masa lampau, diantaranya: praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme. Baiknya manusia mau membaca dan belajar dari sejarah untuk mengurangi pengulangan tindakan tak baik itu.
Ah ya, ada lagi, soal hitam dan putih. Tak semua anak bumiputera itu baik, pun tak semua koloni Belanda itu jahat. Men-generalisasi itu tak benar. Itu salah satu pesan yang ingin disampaikan Bapak Iksaka Banu dalam novel terbarunya Sang Raja, sebuah kisah intrik dalam pabrik rokok kretek.

Penjelajahan yang berfaedah. Mengikuti suatu diskusi, memperkaya gagasan, kembali menumbuhkan semangat (Ryal) untuk melanjutkan misi penulisan sebuah buku.


Hari libur yang menyenangkan, lain kali kami akan keliling museum lagi ~


koleksi Istana Kepresidenan RI


 swafoto pertama kami yg diupload di instagram


foto dg background mural di Garnas Juni 2016 


foto dg lukisan pameran di Garnas Agustus 2016


Beberapa foto lain masih dicari keberadaannya. Postingan ini akan diperbarui secepatnya :)
Mei 01, 2018

ASIMETRIS: Film Dokumenter Industri Kelapa Sawit, Petani, dan Masyarakat yg Dekat dengannya

by , in


Nonton film dokumenter tak selalu membosankan. Coba saja tonton satu film yang temanya lo banget. Dijamin malah bikin ketagihan, macam candu. Kalau buat saya malah bikin mikir, makanya lebih asyik kalo nobar (nonton bareng) sama temen yg satu peminatan. Jadi mikirnya bisa bareng-bareng. Bukalah diskusi, kalo berat, komentari saja dulu, pasti nanti jadi ngalor ngidul.


[intoduction-nya pake curhat dulu, lewati aja kalo kepanjangan]

Seharusnya rangkuman dari tulisan ini sudah ada dalam bentuk utasan tweet. Dulu saya berniat bikin ulasan singkat setelah nobar perdana layar tancap film Asimetris, 13 Maret lalu di LBH, Jakarta. Ulasan ala-ala tentunya, tapi niat itu luntur, terganti dg niat bikin ulasan yg (((agak))) (((sedikit))) serius, ha-ha, meski kayaknya tetep seperti ala-ala.

Sejujurnya saya tidak begitu mengenal Watchdoc ataupun Dandhy Laksono, apalagi menggemari film dokumenter. Bagi saya mendengar kata “film dokumenter” saja sudah terkesan sesuatu yg membosankan. Meski beberapa kali Ryal menyebutkan dua nama tersebut dan beberapa kali menyarankan untuk nonton film hasil karyanya *betapa besar usahanya untuk membuatku tertarik*, rasa-rasanya belum tergerak untuk mau nonton.

Suatu hari, di lini masa twitter, entah siapa, salah satu akun twitter yg saya ikuti tampak memberikan simbol love pada sebuah utasan mengenai channel youtube “berkualitas”, sebuah informasi (dan ajakan terselubung) agar tontonan youtube kita gak itu-itu aja -- nonton orang makan, jalan-jalan, stand-up, debat politik, kabar (gosip) yg sedang viral atau ceramah daring.

Wow, serasa ada yg akrab di mata, Watchdoc. Ooh, mungkin memang perlu sesekali ditonton. Sejak itulah saya agak memberi perhatian padanya.

Ryal mengirim sebuah tautan youtube trailer sebuah film. Walah, bikin film dokumenter sendiri aja, pake dibikin trailer, kayak box office. Pas udah ditonton, wiiiiii, seru! Menarik. Kapan nih tayang? Gak sabar liat versi full-movie-nya.

Mungkin karena ada unsur ketertarikan pribadi terhadap isu yg sedang diangkat, kelapa sawit. Dulu, ceritanya pernah pingin kerja di perusahaan sawit gitu, ha-ha-ha, efek cerita dari kakak saya yg kerja di perusahaan sawit, makanya jadi tertarik untuk nonton film ini.

Datanglah hari yg ditunggu. Pemutaran perdana film Asimetris serempak di beberapa kota di Indonesia, dari ujung Sumatra, Banda Aceh, beberapa kota besar di pulau Jawa, Makassar hingga Maluku. Uniknya, pemutaran film ini diberi nama nobar ‘layar tancap’. Mungkin konsepnya seperti nonton layar tancap kuno awalnya saya pikir, meski aslinya pake proyektor. Wes mboh, sing penting selak pingin nonton. Karena sekarang kami berdomisili di Jakarta, otomatis kami nonton di LBH Jakarta.




  
--


Film ini menampilkan kumpulan kisah orang-orang yang bersinggungan langsung dengan industri kelapa sawit. Dikumpulkan dari Sumatra, Borneo atau Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Papua?? Masa sih industrialisasi kelapa sawit udah sampe Papua juga. Saya baru tau waktu itu. Katrok gak? Kisah-kisah dari petani mandiri dan potret keluarganya, buruh pabrik sawit, aktivis koperasi kredit, masyarakat adat, juga warga sipil yang kena dampak asap kebakaran hutan di Sumatra tahun 2015 lalu.

Video editing dan konsep berceritanya tidak membosankan, makanya meski durasi film ini satu jam lebih dikit, tapi gak ada bosannya selama itu mantengin layar tancap. Selain menampilkan kisah perjalanan si pembuat video, peristiwa-peristiwa yg terjadi selama peliputan (kabut asap, situasi rumah sakit), wawancara beberapa narasumber (bahkan ada yg di sebuah lapas), potret lahan sawit dan kegiatan di sekitarnya, cuplikan video acara tv nasional, pidato pakdhe Jokowi sampai iklan bahan bakar minyak, dirangkai apik dengan sajian data yg rinci--rinci banget. Itu sih kerennya, menggabungkan data ilmiah dan potret asli di masyarakat.

Oh ya, video ini memiliki teks terjemahan di bawah film (subtitle) dalam bahasa Inggris, jadi gak heran kalau film ini juga ditonton sampai di Lancaster University, UK pula.

Ada satu bagian yg entah kenapa kok harus ada di bagian awal film, adegan mbak-mas suap-suapan es krim di sebuah cafe. Meski cuman sekilas tapi berhasil bikin saya gemas.
Memasuki bagian tengah ke belakang film ini jadi serius dan ada juga bagian sedih yang bikin mikir untuk lebih bersyukur kalau kondisi kita lebih baik dan beruntung dari sang pencerita.


--





Asimetris, menurut paham saya, menuturkan ketidakseimbangan kesejahteraan antara pemilik industri kelapa sawit dengan petani-petani kelapa sawit mandiri; ketidakseimbangan manfaat kelapa sawit baik dari segi ekonomi dengan dampak industrialisasinya terhadap sektor lingkungan dan sosial masyarakat.

Diceritakan, kelapa sawit, yang digadang sebagai komoditi ekspor unggulan Indonesia, memiliki berbagai manfaat, setidaknya dalam 3 hal: logistik (minyak goreng, campuran mentega), campuran bahan kimia (sabun mandi dkk), dan campuran bahan bakar. Ilmuwan telah mengembangkan kelapa sawit sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan yang disebut dengan biofuel. Bahkan tak hanya untuk mobil dan truk, biofuel juga dikembangkan untuk campuran bahan bakar pesawat. Campuran kelapa sawit dalam bahan bakar dari proporsi 20% juga terus dikembangkan naik menjadi 30%. Di Eropa, kelapa sawit telah digunakan 46% sebagai bahan bakar dan 16% untuk listrik. Dalihnya adalah pengurangan ketergantungan terhadap bahan fosil yang tak terbarukan.

Yang artinya, permintaan akan kelapa sawit semakin hari semakin besar. Jika ini dinilai sebagai industri yg menguntungkan bagi korporasi, tentunya menguntungkan, telebih Indonesia sebagai pemasok 80% minyak kelapa sawit mentah (CPO) dunia bersama Malaysia tentunya telah menguasai pasar. Usaha pembukaan lahan dan hutan untuk kelapa sawit, khususnya di Indonesia semakin besar-besaran. Maybe, that’s why forest fire occured in so many parts of this country, including Sumatra, Borneo, Sulawesi, until Papua. Karena dinilai menguntungkan bagi korporasi.
Dari segi ekonomi, kelapa sawit telah memberikan sumbangsih triliunan rupiah. Meperkaya si kaya. Tercatat 14 dari 30 orang terkaya di Indonesia memegang sektor sawit, meski juga menguasai sektor lain seperti rokok, properti dan media massa. Lalu bagaimana dengan nasib petani mandiri?

Manfaat kelapa sawit memang banyak bagi kelangsungan gaya hidup manusia modern, dari kebutuhan makanan, bahan bakar, bahkan listrik. Tak seimbang dengan keberlangsungan hidup para petani penggarap kelapa sawit terutama bagi mereka yang hanya memiliki lahan 1 atau 2 ha. Dari keseluruhan lahan sawit di Indonesia, 45% dikelola oleh petani kecil. Biaya perawatan dan pemupukan kelapa sawit jauh lebih besar dibanding hasil panen yang diterima. Bagi perusahaan-perusahaan besar, mengelola lahan sawit dengan berbagai teknologi canggihnya, telah berhasil menciptakan angka panen 8 ton per ha. Sedangkan bagi petani kecil, yang menurut pakdhe Jokowi jangan cuma bisa menghasilkan 2 ton, harusnya bisa sama besarannnya dg perusahaan. Lah pakdhe, untuk beli pupuk aja masih ngutang, apalagi pake mesin, belom lagi kalau hasil panennya kurang bagus, turunlah sudah harga jualnya. Rugi bandar.

Belum lagi masalah lingkungan akibat industrialisasi kelapa sawit. Satu, asap kebakaran hutan di sejumlah titik di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Sekitar 3200 titik api tercatat di seluruh lokasi kebakaran hutan. 52% terjadi di lahan gambut kering, yang disangkakan sengaja dibakar untuk membuka perkebunan sawit. Kemarau panjang atau el nino bukanlah faktor pencetus terjadinya kebakaran tersebut, tapi memperparah keadaan. Sejumlah 19 orang meninggal dan ISPA yg menghantui masyarakat akibat nilai polusi udara waktu itu mencapai 1300% dari ambang batas.

Pencemaran air akibat limbah industri kelapa sawit terjadi di Paminggiran, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Limbah perusahaan sawit dibuang ke sungai. Membunuh habitat ikan papuyuh yang hidup di sungai gambut. Warga desa yang tadinya bergantung pada sungai, kini seperempatnya, terutama para lelaki telah pergi ke kota untuk menggantungkan hidup.

Cerita buruh perusahaan sawit. Narasumbernya seorang wanita. Setiap hari bangun jam 2 pagi, berangkat jam 3 atau setengah 4 ke perkebunan sawit yg jaraknya lumayan jauh dari rumah, kerja sampai jam 1 siang, pulang pun menunggu truk pengangkut buah dan tiba di rumah jam setengah 3 sore. Kerjanya? Memanen 2 ha sawit, memupuk sebanyak 12 sack, dan menebas dahan dalam 1 ha kebun sawit. Jika tak selesai semuanya dalam satu hari, dipotonglah upahnya oleh si mandor. Dari jatah Rp99.000 per hari, kadang hanya dapat Rp.25.000 atau Rp.30.000 saja. Bahkan, sudah 7 tahun ia bekerja, statusnya masih karyawan harian lepas yang artinya ia tidak memiliki tunjangan beras, jaminan kesehatan dan jatah cuti.

Masih ada yg bisa disyukuri dengan hidup ini? Mikir sendiri sendiri.

Kelapa sawit, meski menggiurkan, memiliki mereka-mereka yang masih berpegang teguh untuk menolak. Sebuah koperasi kredit Gemalaq Kemisiq di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat tidak memberikan pinjaman bagi petani yang hendak membuka perkebunan kelapa sawit. Menurut Muliadi Bidau, pengurus koperasi kredit Gemalaq Kemisiq, kelapa sawit termasuk jenis tanaman monokultur yang merusak sumber air. Jika ditanam, sumber air akan kering dan ketika hujan menyebabkan banjir. *kemudian muncul video banjir* Mereka lebih mendorong petani untuk tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman saja, misalkan punya pohon karet, tanamlah juga tanaman buah yang hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.


--


Ini bagian yang membekas, bagi saya.
Di Batanghari, Jambi, masyarakat masih berpegang pada warisan leluhur. Hidup dengan filosofi 3 prinsip: padi, ternak dan karet. Ado padi serba menjadi, ado ternak seba enak, ado parah serba murah. CMIIW karena bukan orang Padang, emm gak tau juga bapaknya itu suku Padang atau bukan, tapi logatnya semacam itu.
*membekas karena pernah pingin deket sama orang Padang*
*diamuk Ryal*

Baginya dengan menanam padi, kebutuhan untuk makan selama setahun pun pasti bisa terpenuhi. Ternak yang dipelihara bisa dijual ketika ada kebutuhan mendesak yang penting seperti menyekolahkan anak. Jadi ketika ibu-ibu pergi ke sawah, bapak-bapak pergi menyadap karet.

Dengan luas sawah 820 ha, tentunya dilirik oleh perusahaan untuk dibeli dan dijadikan perkebunan sawit. Akan tetapi, mereka dengan tegas menolak, bahkan bagi siapa yang menjual tanahnya untuk sawit, tak segan-segan untuk dikeluarkan dari kelompok tani dan bisa terjadi pembongkaran lahan. Hidup berpegang pada filosofi leluhur nampaknya masih ada dan masih dijaga oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Penolakan sawit atas nama menjaga warisan nenek moyang juga dilakukan masyarakat adat Dayak Tomun di desa Kabung, Kalimantan Barat. Teknik tumpangsari masih diyakini lebih menguntungkan secara ekonomi dibanding kelapa sawit. Sistem ladang berpindah diwariskan oleh leluhur, telah menjadi sumber pangan mereka sehari-hari. Hutan menyediakan padi, sayur-mayur, singkong, bumbu-bumbu masakan hingga tebu. Pembukaan hutan yang berjarak 25 km dari tempat tinggal mereka dianggap mengancam kehidupan. Bagi mereka hutan adalah sumber kehidupan, jati diri dan identitas.
*kalau jaman SD inget fungsi hutan sebatas sebagai paru-paru dunia, sekarang baru sadar ternyata gak sesederhana itu*

Masih tentang cerita masyarakat adat. Di Ketapang, Kalimantan Barat, untuk membuka hutan menjadi sawah padi ladang mereka melakukan upacara adat yang disebut dengan “menunggal”. Ada beberapa rangkaian ritual, termasuk menyembelih babi, hi-hi-hi, dan membaca doa di ladang yg baru saja dibuka tersebut.

Pengawas, salah seorang suku Dayak, menceritakan proses suku Dayak dalam membuka lahan. Terdapat beberapa rangkaian seperti menebas, menyekat dengan bambu (mungkin maksudnya untuk memberi tanda batas), memangkas pohon-pohon besar menggunakan kapak, memangkas dahan-dahan besar, baru membakar. Bahkan untuk membakar pun, mereka memperhitungkan arah angin supaya api tidak menyebar ke lahan yang lain.

Jadi, isu kebakaran hutan di Kalimantan terjadi sejak lama itu tidak benar. Menurutnya, kebakaran hutan mulai muncul ketika perusahaan mulai membuka industri perkebunan di Kalimantan.

Masih menyoal pembukaan lahan dan hutan. Pemerintah pernah melakukan program pengalihfungsian lahan gambut di Kahayan, Kalimantan Tengah menjadi areal persawahan dengan mendirikan bendungan untuk irigasi di tahun 1996. Proyek tersebut gagal dan masih menyisakan hutang ganti rugi atas perkebunan rotan dan karet milik warga untuk pembangunan bendungan tersebut.

Ide pencetakan sawah di tanah Papua juga terjadi. Pembukaan sawah seluas 1 juta ha di Merauke. Industri perkebunan sawit juga menjarah tanah Papua. Praktek ini ditolak warga suku Mahuze Besar yang bersikeras mempertahankan tanaman sagu.



Lalu apa yang bisa saya lakukan sebagai warga negara yang tidak bersinggungan langsung dengan industrialisasi kelapa sawit tapi ingin ikut berupaya mengurangi permintaan dunia atas kelapa sawit?
Apakah harus mandi menggunakan daun Hihonje sebagai sabun seperti masyarakat suku Baduy?
Tentunya saya tidak bisa seperti masyarakat suku Boto, Nusa Tenggara Timur yang membuat sendiri minyak kelapa untuk memasak dan meminyaki rambut.


---


Kabarnya, setelah diputar di lebih dari 200 titik layar tancap di seluruh Indonesia, video lengkap film Asimetris ini sudah bisa ditonton juga di channel youtube Watchdoc. Antusiasme masyarakat Indonesia tampak besar, terbukti dari sejumlah titik pemutaran film tidak hanya di beberapa Universitas oleh mahasiswa sekaligus ajang diskusi kaum terpelajar, pemutaran film ini bahkan sudah dilakukan di sebuah mall dan komunitas-komunitas warga di pelosok negeri.
Gak rugi kalau ditonton, syukur-syukur nobar dan lanjut diskusi sama temen sejawat.




One thought: masyarakat adat yang tak berpacu dengan peningkatan teknologi dan gaya hidup modern, yang justru seringkali dikira primitif, nyatanya justru lebih arif dalam menjalani hidup untuk dirinya dan lingkungan tempat ia tinggal.