Tampilkan postingan dengan label travel&date. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel&date. Tampilkan semua postingan
Juni 05, 2018

14.48

by , in
Tepat dua tahun yg lalu, (03-050616) aku melakukan sebuah kegiatan yg kemudian sedikit-banyak mengubah hidupku, wkwk :3
Sepanjang tahun 2015 dan awal tahun 2016, bagiku, waktu berjalan cukup lambat, dan hidup terasa melelahkan. Ah, setiap manusia pun akan lelah dan jenuh di titik tertentu pada bagian-bagian hidupnya. Perjalanan hidupku baru sampai titik pergulatan jiwa dan raga sebagai mahasiswa tingkat akhir waktu itu.

Bagi manusia pemalas dan mudah hilang semangat, juga cenderung mudah menyalahkan diri sendiri, mengakhiri semester 8 dengan tanpa hasil menjadi beban batin tersendiri, terlebih kebanyakan teman seangkatan sudah berhasil melewati tes akhirnya sebagai mahasiswa. Mau tak mau harus memaksakan diri sendiri mengakhiri perjalanan sebagai mahasiswa di semester 9. No excuse. Dan terlewati juga lah masa-masa itu.

Officially lulus dan sidang skripsi pertengahan bulan Februari. Selesai mengurus administrasi sampai daftar wisuda tanggal 28 Februari 2016. Hari langka, 4 tahun sekali. Dan karena wisuda di kampusku terbagi dalam beberapa periode dalam setahun -- bisa sampai 6-7 kali setahun -- aku mendapat giliran wisuda di bulan Mei 2016. Pun sampai bulan Mei itu aku tak banyak melakukan usaha untuk memulai mencari kerja :p Rasanya masih ingin liburan dan jalan-jalan.
Hasil sebuah jalan-jalan di dunia maya, aku tertarik dengan sebuah kegiatan ‘jalan-jalan’ yg ditawarkan Yayasan Filantropi Indonesia untuk ikut kegiatan relawan di desa Girijagabaya, Banten. Melalui website indorelawan.org Yayasan ini mempromosikan dan mengajak bagi siapapun yg berminat sehari mengajar dan menginspirasi anak-anak di pelosok Banten sekaligus dapat bonus jalan-jalan ke Baduy Luar.
Jalan-jalan! (ke Baduy)
Ya, itu yg membuatku tertarik untuk ikut kegiatan ini. Alasan receh yg ternyata .... (baca sampai akhir cerita)

Singkat cerita, aku mendaftar, dihubungi pihak panitia, beberapa kali berkoordinasi untuk kegiatan di sana melalui grup WA, dan here we go ... mari berangkat ke Banten!


--


Kegiatan ini berlangsung dari hari Jumat sampai Minggu, 3-5 Juni 2016. Hari Jumat pun sebenarnya waktunya kami melakukan perjalanan ke tempat tujuan, hari Sabtunya ‘aksi’, dan hari Minggu jalan-jalan!
Kami para peserta atau relawan Inspiration Action Day (IAD) berkumpul di stasiun Pondok Ranji pukul 13.00. Aku berangkat jam 10-an dari Dramaga, dan seperti biasaaa, macet. Kupikir akan telat, eh ternyata panitianya pun telat ^^v

Sewaktu aku sampai di stasiun Pondok Ranji, yes, for the first time di stasiun Pondok Ranji. Deg-degan juga sih, karena aku inisiatif ikut sendiri, gak ngajak-ngajak temen, dan malah akan ketemu temen-temen baru.
Gak susah nyari mereka, kebanyakan sudah lebih dulu sampai di stasiun, otomatis sudah bergerombol di satu titik. Gak deng! Dua titik, kami berhijab -- apasih bahasa anak kampusku -- terpisah antara laki-laki dan perempuan. Yg kucari pertama kali rekan-rekan satu kelompokku nanti, Kak Inoey, Iman, dan Monic. Pasti kak Tito ada lah diantara gerombolan laki-laki itu, nanti juga akan tau.

Setelah berkenalan satu sama lain, takjub juga, ternyata yg ikut kegiatan ini sungguh variatif, dari anak yg baru kemaren lulus SMA, mahasiswa tingkat piyik-piyik, mahasiswa tingkat akhir, fresh graduate alias pengangguran (aku), mahasiswa S2 dan pekerja. Eh, dan ternyata ada kakak S2 yg sama-sama dari Dramaga, Kak Mery, senangnya nemu temen pulang bareng.

Aku gak begitu paham waktu itu kenapa jadwal keberangkatan kami (agak) molor. Baru-baru setelah acara ini selesai aku tau kalau ternyata beberapa panitia berangkat lebih dulu ke Girijagabaya menggunakan mobil, sedangkan kami, para peserta, naik kereta tujuan Rangkas. Ada salah seorang panitia yg waktu itu bertugas mengoordinasi kami, Anam, dan dia di hari yg sama, pagi hingga siang ada kegiatan dulu, kemudian telat-lah dia datang ke stasiun Pondok Ranji dari waktu yg seharusnya.

*cerita mengenai Anam dan keterlambatannya akan muncul di kisah lain dalam blog ini*

Anam mengajak kami berkumpul, bersiap naik kereta, melakukan perkenalan dan briefing singkat. Let’s go!

Honestly, *muka merah*
Kesan pertama terhadap Anam membuatku berpikir, “Kayaknya, nih orang gak jauh beda umurnya dari aku, hebat juga udah bisa aktif di kegiatan yg cakupannya bahkan di luar kampus. Aku aja gini-gini cuman bisa main di kampus doang, paling banter, ILMAGI, itupun masih berurusan sama orang-orang yg satu golongan aja. Lah dia, sudah bisa ‘berakasi’ lebih. Hmm, harus bisa ngobrol sama orang ini.”
*my eyes on you*

Jug-ijag-ijug-ijag-ijug kereta api Rangkas Merak membawa kami mulai bertualang.
Kereta Api Rangkas Merak yg kami tunggangi kala itu merupakan kereta api ekonomi, yg tempat duduknya suka-suka, bangkunya 4-4 di sisi kanan dan kiri lorong, alias 2-2 saling berhadapan. Bangkunya keras, senderannya hanya mencapai setengah punggung. Dan karena tempat duduknya suka-suka, kami (aku, kak Inoey dan Iman) sempet bolak balik nyari gerbong yg lowong.

Kata seorang penumpang, “(ke gerbong) belakang, masih banyak yg kosong.”

Kami pun jalan ke gerbong belakang, mencari tempat duduk yg bisa untuk bertiga. Oh ya, Iman itu perempuan. Awalnya aku pun bingung apakah dia laki-laki atau perempuan, hmm, dan aku lupa siapa nama panjangnya. Sedangkan Monic, yg waktu itu ikut bersama teman-teman satu jurusannya, duduk berpisah dg kami bertiga. Actually, aku juga gak begitu ngeh, karena pas kereta datang, ya udah asal masuk aja, urusan pada jalan ke kanan atau ke kiri, toh kita masih dalam satu rangkaian kereta.

Sepanjang perjalanan satu setengah jam, atau dua jam itu, I don’t remember, kak Inoey dan Iman banyak bercerita dan bergurau, typically-Sanguin, aku hanya menimpali sesekali meski dengan asyik mendengarkan mereka. Kak Inoey sudah bekerja dan Iman mahasiswa UI tingkat akhir.

Di gerbong yg sama, ada rombongan kami yg lain, sepertinya Visya dan Rita seingatku, atau mungkin ada yg lain, aku tak begitu ingat. Juga ada Hanafi yg terlihat mencoba mengajak ngobrol dan berkenalan dengan kelompok Visya itu. Ternyata dia (Hanafi) berkeliling, Bro! Dan sampailah dia berpindah ke kelompokku.

Tadinya kami duduk bertiga plus seorang Bapak-bapak. Tapi di suatu stasiun Bapak itu pindah tempat duduk dan entah hilang setelah turun di stasiun mana. Nah, ketika kursi si Bapak di depan kak Inoey itu kosong, duduklah Hanafi bersama kami, mengajak berkenalan.
Posisinya: Kak Inoey duduk di dekat jendela, aku di sampingnya (dekat lorong), Iman berhadapan denganku.
Blablabla, cerita-cerita yg lalu~


--


Di sebuah stasiun, Kereta Api Rangkas Merak berhenti agak lama, mungkin ada 5-10 menit. Penumpang di gerbong kami pun lama-lama menipis, sudah turun di stasiun tujuannya masing-masing. Saat kereta kembali berangkat, dua orang laki-laki dari rombongan kami duduk di bangku seberangku. Dua orang laki-laki, yg sedari tadi di Pondok Ranji terlihat selalu berdua, Anam dan Aal. Kupikir Aal ini salah satu dari panitia juga karena dia tampak ikut membeli tiket bersama Anam di Pondok Ranji tadi. Ya, pokoknya mereka selalu berdua, jadi kusimpulkan dia adalah bagian dari panitia.

Aku tak begitu ingat awal mula pembicaraan itu, yg kutangkap dan ingat, saat itu adalah sebuah kenyataan bahwa sangkaanku benar, guys, Anam waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir.
Kenyataan kedua: mereka suka atau mungkin (hanya) pernah NAIK GUNUNG :3

“Oh, suka naik gunung juga?” tanyaku.
You got my attention, boys.
Seneng gitu kan kalo nemu orang yg punya minat yg sama.
*muncul love love di mata* *senyumnya langsung lebar*


Kami tiba di stasiun Rangkas menjelang maghrib. Di sana sudah menunggu dua buah angkot yg siap membawa kami ke desa Girijagabaya. Jenis angkot yg gak pernah aku temui dari zaman aku naik angkot kelas 2 SD sampe angkot di Dramaga. Ukurannya tanggung, gak sekecil angkot Dramaga, gak sebesar angkot jurusan Pekalongan-Limpung. Mungkin muat untuk 15-18 orang dengan posisi duduk normal (ke depan), bukan hadap-hadapan kayak angkot Dramaga. Ya ada sih satu dua kursi yg menghadap ke samping.

Sebelum ke Girijagabaya, kami istrirahat makan dan sholat dulu di alun-alun Rangkas. Kami ketambahan anggota baru, Dini, relawan yg berdomisili di Rangkas. Usai istirahat, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Rangkas. Lagi, aku, Kak Inoey dan Iman jadi satu paket, memilih satu angkot yg sama. Aku duduk di deretan kursi paling belakang yang muat untuk 4 orang. Kak Tito juga satu angkot denganku, dia duduk di kursi depan. Ah ya, kak Tito lebih tua dariku dan dia sudah bekerja di salah satu perusahaan berkantor di Jakarta.

Siapa lagi yg satu angkot denganku? Hanafi, Anam dan Aal. Ha-ha-ha
Awalnya angkot kami riuh, dengan musik yg di-stel menggunakan handphone. Lama-lama hening, angkot kami meninggalkan Rangkas, masuk ke pedalaman Banten, menembus malam.
Sekian jam perjalanan. Gak kerasa karena aku memaksakan diri untuk tidur. Tak memperhatikan jalan juga karena lama-kelamaan pandangku tertutup gelap tak ada pencahayaan.

Menjelang pukul 10 malam kami sampai di rumah Kepala Sekolah tempat kami berkegiatan besok. Kami istirahat sebentar di sana, sebelum kami para perempuan berpindah ke rumah yg lain untuk istirahat (tidur). Para lelaki tinggal di rumah ini.

Panitia meminta para ketua kelompok untuk berkumpul dulu di rumah Kepala Sekolah, berbagi perlengkapan yg akan kami gunakan esok hari. Tinggallah aku sejenak di situ.
Nothing special si, kecuali mungkin bagi orang lain.

Pergi ke rumah (camp) khusus perempuan, aku malah tak bisa tidur meski sudah pukul 12 malam. Kuputuskan untuk tidur-tiduran saja sambil menunggu subuh, dan bergiliran untuk mandi. Siap-siap beraksi!


--

to be continued, nulisnya nyicil ^^v
Mei 03, 2018

Nonton Konser tapi Tak Hafal Lagunya

by , in

Bagi orang sepertiku, yg meski suka dengerin lagu, punya lagu favorit, grup akapela dan band favorit, tapi kok ya nggak bikin aku pingin nonton konsernya Pentatonix meski mereka konser di Indonesia. Apalagi dateng ke konser musik yg nggak dikenal siapa yg nyanyi sekaligus lirik lagu yg dia nyanyiin, terus arep opo? Yowes rungokno wae. Salahmu dewe teko.




Orang menyukai penyanyi atau band tertentu biasanya karena: lagunya enak aja, genre gue banget --entah ada orang yg suka jazz, EDM, regae, dangdut koplo, rap dll --, lagunya enak buat joget, penyanyinya ganteng/cantik, lirik lagunya pas banget sama cerita hidup gue, lirik lagunya bagus gak melulu soal cinta-cintaan, stage act penyanyinya keren, dan lain lain dan lain lain.

Kebanyakan orang punya penyanyi atau band favorit, sangking ngefansnya dibela-belain nonton konser penyanyi atau band tersebut, senang sekali rasanya! Bagiku yg memutuskan untuk tidak mau fanatik dengan sesuatu, sejak SMP, yhaa biasa aja -- padahal ya karena nggak pernah nonton konser jadinya nggak tau euforianya yg bikin nagih.

Yaa wajar aja sih, setiap orang kan punya kesukaannya masing-masing. “sesuatu” atau “kegiatan” yg disuka. 


Seumur-umur, sampe udah gede bahkan, seingetku aku nggak pernah nonton konser penyanyi atau band tertentu. Belum mau sih lebih tepatnya. Pernah sekalinya diajak nonton konser, konser Payung Teduh, gue gak tau Bro ini siapa dan lagunya yg mana :”

Sebenernya bukan konser tunggal Payung Teduh tapi acara kampus yg mengundang Payung Teduh sebagai bintang tamu. Comfest (Communication Festival), acara Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam kampus Ryal.


poster Milad Dakwah 2017


Acara konsernya malam, meski rangkaian acara Comfest sendiri sudah dari pagi. Ku baru tahu susahnya jadi MC kalo harus mengulur-ulur waktu nungguin band dateng atau persiapan band cek sound. Baru tau karena lumayan parah aja sih pergantian sesi penampilnya, lama abis. Sabar yaa mas-mas. Untung masnya agak jago ngelawak, meski lebih banyak garingnya, gapapa yg penting sudah usaha.

Sebelum Payung Teduh tampil, ada bintang tamu lain, Danilla. Tau nggak? Kalo aku baru denger di malam itu juga. Ternyata mbaknya itu penyanyi jazz, bener gak ya jazz (?) Suaranya sih enak, lagunya enak buat pengantar tidur, asli. Mbaknya juga cantik, pasti banyak yg dateng beli tiket konser karena ngefans sama mbaknya yah? Ya kan para lelaki, ngaku aja.

ini loh mba Danilla (dokumetasi www.zetizen.com)

Sewaktu Payung Teduh tampil, langsung duduk tegak gitu, mencurahkan segenap perhatian pada seisi panggung, gak deng! Merhatiin mas-mas yg jadi bassist -- kubaru tau kalau itu bassist -- yg megang alat musik macam cello tapi kayak dipetik gitu mainnya.

Seeeeeepanjang pertunjukan, dari sekian banyak lagu yg dinyanyikan, cuma satu lagu doang yg aku tau, Untuk Perempuan Dalam Pelukan. Tau gara-gara Ryal pernah ngasih tau. Jadi pernyataanku ttg aku nggak kenal sama sekali Payung Teduh nggak sepenuhnya bener :p

Aku tau baru secuil waktu itu. Setelah konser itulah aku nyari tau lagu-lagu Payung Teduh, daaaaan justru ngerasa aneh ketika Payung Teduh rilis single terbarunya yg berjudul Akad yg hits banget itu. Pada pingin kawin apa ya ini orang-orang Indonesia(?) Aneh karena tak seperti (lagu-lagu) Payung Teduh sebelum-sebelumnya. Biasanyanya kan gak selugas gitu lirik lagunya.

Hmm, tapi aku baru tahu kalo nonton Payung Teduh biasanya penontonnya kalem, pada duduk-duduk, lagunya kan juga kalem-kalem gitu. Terus, sangking antusiasnya atau mungkin sangking hafal dan ngefans abisnya sama Payung Teduh, paduan suara penonton ngalahin suara mas Is nyanyi. Jane aku ngrungoke paduan suara opo Payung Teduh konser?

Jadi, ketika nonton konser tapi nggak tau siapa yg tampil dan lagu apa yg lagi dinyanyiin, ya dengerin aja. Pas didengerin juga malah muncul pertanyaan, “Judulnya apa nih, yal? Kok enak.”
Seperti hidup, segala sesuatunya dinikmati aja, pasti ada part yg bikin kamu suka.

Btw, acara Comfest ini selain dalam memeriahkan ulangtahun jurusan, juga dalam rangka memperingati Hari Bumi, makanya posternya berwarna hijau, lol
Kerennya, mereka melakukan aksi menanam 1.000 pohon lho!


--


Another story tentang nonton konser tapi gak tau band dan lagu yg dinyanyiin.

Berbekal pengalaman nonton konser Payung Teduh, aku berusaha ngapalin dulu lagu-lagu Sheila On 7 waktu dateng ke acara Milad Dakwah 2017, yes! Di kampus Ryal.
Harusnya sih nggak susah-susah banget. SO7 kan band yg hits sejak lama bahkan waktu aku masih SD. Lagu-lagunya juga asyik, longlast gitu sampe kapan pun. Apalagi suaranya Om Duta yg selalu bisa menghipnotis.


Sekali lagi, karena aku nggak pernah mau peduli dan nyari tau sesungguhnya aku dateng acara apaan, malam itu aku baru tau kalo ini bukan semata konser SO7. Sebagai band pembuka, ada penampilan Tiga Pagi dan Nosstress. Baru setelahnya akan tampil The Sigit dan ditutup dengan SO7.

Apakah pernah denger ketiga nama band selain SO7 tadi? Ya, satu, Nosstress, itupun setelah Ryal pernah ngirimin salah satu lagunya yg berjudul Pegang Tanganku. Hmm, lagu cinta-cintaan gitu. Enak kok, tapi gak buat untuk terus-terusan. Nanti aku mabok cinta.

Tiga Pagi.
Sebuah grup band indie asal Bandung. Yg unik dari band ini adalah penggunaan instrumen irama ke-Sunda-Sunda-an gitu -- maaf orang awam, jadi kurang begitu tau istilahnya. Katanya genre band ini folkways, hmm tak tau juga apa ini artinya. Ya mungkin itu, mengusung ragam musik suatu suku atau etnis tertentu, Sunda I mean. Aku tak ingat betul apa saja lagu yg mereka bawakan selama konser di acara ini. Tapi ada satu dua lagu yg enak didengar, karena lirik lagunya tak biasa. Tak biasa menurutku adalah tidak melulu cinta-cintaan. Sila cari di youtube lagu-lagu Tiga Pagi. Beberapa enak didengarkan ketika sedang ingin merenung.



Nosstress.
Ternyata double ‘s’ setelah kata ‘no’.
Jauh-jauh band ini didatangkan dari Bali! Another indie folk band. Kalau mau kepo-kepo, mereka punya website, juga channel yutube dengan video yg sudah banyak. Pegang Tanganku, salah satu lagu mereka yg hits. Coba dengerin lagu mereka yg berjudul Bersama Kita, bagus loh. Lagi, karena gak tentang cinta-cintaan sepasang kekasih jadi aku suka.

Begini sepenggal lirik lagunya:
Mencoba slalu temukan apa yg ingin kita cari
Dan tetap slalu bersama dalam berpikir dan menjalani
Semua cerita dalam setiap hidup takkan selamanya indah
Takkan selamanya buruk
Coba slalu hadapi

Lagu yg cocok didengarkan atau didendangkan ketika lagi butuh semangat. Meski lagunya ngasih semangat tapi dibawakan dengan lunak saja, gak menggebu seperti musik rock.



The Sigit.
Nah ini!
Ini baru grup band musik rock Indonesia. Asal Bandung tapi sudah melanglangbuana konser sampai negara-negara tetangga loh. Pantas saja sewaktu datang ke acara ini banyak orang berpakaian serba metal gitu. Ternyata mereka mau nonton konser band rock idola mereka.

Sejujurnya aku tak begitu suka dengan rock, meski musiknya bersemangat, tapi lagi nggak pingin jingkrak-jingkrak ndusel-ndusel di tengah lapangan. Waktu itu sudah hampir menuju tengah malam ketika The Sigit tampil. Bagi mereka, para fans, mereka sangat ekspresif ketika band kesayangannya tampil. Black Amplifier, satu-satunya judul lagu mereka yg aku ingat, dan memang salah satu lagu terbaik The Sigit. Inget gara-gara kata amplifier-nya, unik to judulnya.



Malam itu, kami, penonton konser yg setia. Setia berbecek-becekan di lapangan (sepak bola(?)) dan setia menunggu SO7 tampil meski sudah lewat tengah malam.
Siang atau sore hari sebelum konser itu hujan, jadi lapangan tempat konser ini becek dan banyak genangan air di mana-mana. Tapi kami masih tetap saja mau dan rela berlama-lama dalam kondisi itu. Jadwal penampilan band juga molor. Beberapa band yg harusnya tampil di siang hari, entah karena alasan apa, baru tampil ya malam itu. Otomatis jadwal tampil band-band bintang tamu tadi semakin larut. SO7 pun tampil lewat dari tengah malam.

Rasa penasaran nyanyi bersama ribuan penonton sekaligus band aslinya dalam sebuah konser, membuatku bertahan untuk tetap ada di situ hingga akhir acara. Terbayarlah dengan Om Duta yg nyanyi lagu-lagu terbaiknya. 

Galau dengan lagu Betapa & Yang terlewatkan ..

Kemana kau slama ini, Bidadari yg kunanti
Kenapa baru sekarang, Kita dipertemukan
...
Mungkin salahku .. melewatkanmu ..
Tak mencarimu .. selama ini .. maafkan aku ..

Disemangatin pake lagu Lapang Dada, Perhatikan Rani ..

Dan jangan takut, jangan layu
Pada semua cobaan yg menerpamu, jangan layu
Kami slalu bersamamu dalam derap
Dalam lelap mimpi indah bersamamu

Beromantis-romantis menyanyikan lagu JAP (Jadiakan Aku Pacarmu), Seberapa Pantas ..

Seberapa pantaskah kau ku tunggu
Cukup indahkan dirimu untuk slalu kunantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukan kau bertahan di saat kita jatuh
..
Seberapa hebatkah kau untuk kubanggakan
Cukup indahkan dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yg malang
Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang
..
Celakanya hanya kaulah yg benar benar aku tunggu
Hanya kaulah yg benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang ke mana pun kau suka
Celakanya hanya kaulah yg pantas untuk kubanggakan
Hanya kaulah yg sanggup aku andalkan
Diantara peri aku slalu menantimu

Sheila On 7 ini lho, lirik lagunya selalu manis tapi tak pernah berlebihan. Dan Om Duta lucu juga ya kalo lagi nyanyi, gak bisa diem gitu.



Keseruan ini berakhir dengan keputusan bolos masuk kerja keesokan harinya.
Capek akutu~
Mei 03, 2018

Nyanyi Lagu Daerah, Mengenang Masa Kanak-kanak

by , in


Nonton pentas seni selalu menyenangkan bagi yg memang suka. Waktu masih mahasiswa, selama 4 tahun++ kuliah, aku gak pernah absen nonton Gebyar Nusantara (Genus). Sebuah pertunjukan seni dari masing-masing daerah di Indonesia. Dimainkan oleh mahasiswa yg tergabung dalam OMDA, mengolaborasikan permainan alat musik tradisioanal, tarian adat, sedikit lakon dan tentu saja kostum serta riasan yg membuat pemainnya makin menawan.

Di IPB, ada yg namanya Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA).  IPB didesain menampung mahasiswa dari berbagai macam daerah dari Sabang sampai Merauke melalui program USMI. Setiap tahunnya, biasanya bulan September, melalui BEM KM IPB digelarlah pertunjukkan seni budaya dari masing-masing Omda ini. Rangkaian acaranya selain pertunjukan seni--biasanya tari, drama musikal dan sejenisnya--ada juga lomba masak makanan daerah, stand galeri daerah, putra-putri Omda, dan baru-baru ini juga ada parade maskot daerah -- arak-arakan orang menggunakan kostum yg didesain sesuai kekhasan daerah masing-masing, semacam Jember Fashion Carnival. Acaranya seharian dan puncaknya di malam hari, akan ada penampilan seluruh putra-putri Omda dan 3 penampil pertunjukan malam. Biasanya sih ini jadi kompetisi tersendiri untuk Omda biar bisa tampil di malam puncak Genus. Sepertinya kapan-kapan harus ditulis juga ttg Gebyar Nusantara yg tahun lalu (2017) dihadiri oleh Kevin Liliana, Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2017 dan berkontribusi dalam pemilihan putra putri Omda. Hey you guys, anak-anak IPB, kalau denger lagu Serasa-nya Chrisye pasti ingat Genus khaan? *theme song wajib GENUS* Wkwkwk.

Meski tak sebesar perhelatan Pasar Seni ITB -- ya iyalah kan ada anak Fakultas Seni di sono -- Genus tetep punya tempat tersendiri kok di hati <3


Sangking hausnya akan pertunjukkan seni, sekalinya ada kesempatan, langsung bilang: yuk cabs!
Ceritanya, kelompok penggiat seni Fakultas Ryal menggelar pementasan seni tahunan. Tahun ini (2017), mereka yg tergabung dalam Pojok Seni Tarbiyah (POSTAR), menggelar Pentas Tunggal POSTAR 2017 dengan judul Ansambel Musik Kenang Kumara.

Awalnya kami bermaksud mengajak dan datang bersama teman-teman, tapi karena satu dan lain hal --mungkin sudah bosan dengan pertunjukkan yg konsepnya sama tiap tahunnya -- kami akhirnya datang hanya berdua. Ehtapi ketemu juga teman-teman lain yg masih antusias untuk menikmati pertunjukan seni ini. Mungkin karena memang suka atau karena pernah jadi bagian dari kelompok penggiat seni itu.

Da aku mah apa atuh, cuma suka. Nyanyi fals, badan gak luwes, gak pinter acting, sekalinya ikut lomba di kampus ya cuma lomba senam aerobik tingkat departemen (jurusan), wkwk, itu bukan seni ya?




--


Ansambel Musik Kenang Kumara menyuguhkan pagelaran musik dipadukan dengan tarian dan teatrikal. Pagelaran musiknya juga keren abis karena menggabungkan musik modern dengan musik tradisional, jadi ada karawitan dan degungnya juga lho, plus marawis. Ohya, ada paduan suara, juga mba-mba (4 orang) yg nyanyi solois gitu. Suaranya bagus, mungkin bisa ikut Indonesian Idol.

Setelah di-googling dan cek KBBI, begini perbedaan degung dengan kawaritan. Degung itu nama alat musik yg biasa dimainkan masyarakat Sunda, katakanlah salah satu nama perangkat gamelan Sunda. Sedangkan karawitan itu seni gamelan dan seni suara yg bertangga nada slendro dan pelog, katakanlah ada orang nyanyi (nyinden) diiringi permainan gamelan. Kemudian, karawitan itu bukan cuma Jawa aja, tapi ada Sunda dan Bali.

Nah ini, aku pernah ikut lomba karawitan pas jaman SD, ha-ha-ha. Jelas bukannya yg nyinden. Main perangkat gamelan yg namanya Saron. Tadinya mau main Bonang Panerus, tapi karena gak bisa ngimbangi Bonang Barung, dipindah ke bagian yg bisa aja :3 Googling aja ya bentuknya kek mana.
Pas lomba didandani pake sanggul gitu, hi-hi-hi.


--


Tema Pentas Tunggal POSTAR ini mengangkat lagu-lagu daerah. Selama pertunjukkan kita dibuat mengenang lagu-lagu yg pasti akrab di telinga kita pas jaman SD. Dari lagu Tokecang, Ampar-ampar Pisang, hingga Apuse. Lagu-lagu yg disajikan lengkap dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Timor-timur hingga Papua.

Berikut beberapa judul lagu yg ditampilkan dalam pertunjukkan ini:
-          Hompipa (Jawa Barat) cipt. NN
-          Cingcaripit (Jawa Barat) cipt. NN
-          Cingcangkeling (Jawa Barat) cipt. NN
-          Tokecang (Jawa Barat) cipt. NN
-          Injit-injit Semut (Jambi) cipt. NN
-          Rasa Sayange (Maluku) cipt. NN
-          Ampar-ampar Pisang (Kalimantan Selatan) cipt. NN
-          Lagu Cinta untuk Mama, cipt. Seli Pontoh
-          Apuse (Papua) cipt. NN
-          Desaku (NTT) cipt. NN
-          Naik-naik ke Puncak Gunung (Maluku) cipt. NN
-          Anak Kambing Saya (NTT) cipt. NN
-          Kampuang Nan Jauh Dimato (Sumatera Barat) cipt. NN
-          Layang-layang (Sulawesi Tenggara) cipt. NN
-          Pulau Bali, cipt. Tony Hawaii
-          Burung kakak Tua (Maluku) cipt. NN
-          Potong Bebek Angsa (Timor-timur) cipt. NN

Ada judul lagu yg asing? He-he-he. Kalau penasaran, cari tahu aja di google.

Beberapa lagu dinyanyikan medley, ada juga yg dinyanyikan satu lagu utuh sendiri. Disajikan dalam aransemen yg apik, entah itu vocal group atau dinyanyikan sang solois; diiringi musik modern, tradisional atau campuran keduanya. Beberapa lagu dibuka dengan aksi treatrikal dan disuguhkan bersama tarian daerahnya.

Ohya, kok tiba-tiba ada lagu “Lagu Cinta untuk Mama”? Karena pentas ini mengajak adik-adik kita (mungkin masih duduk di bangku SD) untuk tampil dan menyanyi di atas panggung. Salah satunya menyanyikan lagu tersebut. Makanya tak heran kalau di bangku penonton ada sejumlah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Mungkin orangtua dari adik-adik tersebut, atau mungkin orang tua dari mahasiswa yg tampil (?)


--


Pesan yg ingin disampaikan oleh panitia penyelenggara: perkenalkanlah dan hidupkan lagi lagu-lagu daerah pada anak-anak. Biasanya anak-anak kenal lagu daerah sambil bermain permainan daerah. Permainan daerah dirasa sudah mulai hilang dan tak lagi dikenal tergantikan game digital. Padahal kebanyakan permainan daerah mengajarkan anak-anak untuk bersosial, bermain bersama teman, berhitung sampai nilai sportivitas. Pun lagu daerah, memiliki makna mendalam meski liriknya sederhana.

Kayak ibuk Kirana itu lho, meski tinggal di Oman, tapi pas masih piyik kinyis-kinyis Kirana udah dikenalkan lagu Indonesia dan lagu daerah. Gitu ya, calon buk-ibuk. Nanti diajarin anak-anaknya kenal dan suka sama budaya Indonesia yg beragam *sambil ngaca*


--


Kami berdua pun pulang dengan rasa bahagia atas kenangan masa kanak-kanak yg telah direkonstruksi ulang oleh POSTAR melalui pementasan seni tadi.
Terima kasih. Sukses terus untuk kalian!
Kami tunggu karya kalian di tahun 2018.

Salam dari kami berdua si penikmat seni.


--


Dalam pamflet yg diberikan panitia, tertulis sebuah sajak sebagai berikut:

Doderi Papua
Oleh: Khairunnisa
Sa lahir ding besar di tanah Papua
Sa pu pace, mace, ada di sana
Sa mo pigi ini bukan untuk mencari dosa
Sa pu sodara ajak sa untuk mengejar angan menggapai mimpi
Nene bilang “Sudah sana pergi cari hal baru!”
Sa pu sodara datang jemput asa di teluk Doderi
Dan Nene bilang “Sudah tak usah seberang pulau.”
Sa pu mimpi ada buat Papua
Izinkan sa sebut nama baki pase
Sa pamit deng lambai tangan buat pace deng mace
Isi hati, sa cinta tanah Papua, Indonesia
Sa pu mimpi, di tanah Doderi, untuk Papua sa pu Doderi.

Mei 03, 2018

Aksi Kamisan: Diam Hitam di Depan Istana Presiden

by , in



Demo atau unjuk rasa di pikiranku memiliki kesan identik dengan anarkisme atau kekerasan, awalnya. Makanya dulu sama sekali tak tertarik untuk melakukan hal itu, bahkan sekadar bersinggungan apalagi ikut-ikutan.
Sudut pandangku terhadap sebuah ’aksi’ berubah sejak tau dan pernah ikut Kamisan di pertengahan tahun 2016 lalu.


Aksi Kamisan adalah sebuah bentuk protes penuntutan keadilan atas terjadinya kejahatan pelanggaran HAM. Kasus apa saja yg mereka perjuangkan? Tragedi kemanusiaan 1965/66, Penghilangan/Penculikan Aktivis 1997/1998, Tragedi Kerusuhan Mei 1998, Penembakan Mahasiswa Trisakti 1998, Tragedi Semanggi I/II, Pembunuhan Cak Munir, Penyiraman Air Keras Novel Baswedan dan berbagai tragedi kemanusiaan lain. Mereka yg tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK) memulai aksinya setiap hari Kamis sejak 18 Januari 2007.

Slogannya: Aksi Kamisan Diam Hitam di Depan Istana Presiden. Mengartikan aksi damai ini dilakukan dalam bentuk berdiri diam di depan Istana Negara, biasanya sejak pukul 16.00-17.00. Identik dgn drescode warna hitam dan pemasangan sejumlah payung hitam bertuliskan kasus-kasus HAM. Setiap Kamisan, dibuat surat terbuka untuk presiden yang isinya berkolerasi dengan isu pekan itu.

Aksi ini meski sudah berumur 11 tahun (di tahun 2018), masih dan akan terus ada selama pemerintah dianggap belum mampu menuntaskan dan memberikan keadilan pada kejahatan pelanggaran HAM masa lalu maupun saat kini. Keberadaan mereka setiap kamis adalah wujud perjuangan ini masih ada meski terkadang dibarengi rasa pesimistis.


Sumarsih, perempuan berambut putih yg terlihat selalu ada berdiri di sana. Beliau adalah ibu dari Norman Irawan (Wawan), salah seorang mahasiswa Universitas Atma Jaya yg tewas saat peristiwa Semanggi I. Selama bertahun-tahun beliau berjuang menuntut keadilan atas kematian putranya. Pun sampai sekarang, meski menurut pengakuannya, tak ada perkembangan yg berarti dalam penuntasan kasus tersebut. Jokowi dianggap masih memprioritaskan program-program pembangunan infrastruktur, sedang soal penuntasan kasus HAM belum menjadi prioritasnya.


Ibu Sumarsih & Ryal di Kamisan-454


I realized the limitation of my knowledge to the historical events of this country. Here I try to write what I read about it and I will try to find out more later.

Tragedi Semanggi I.
Tahun 1998. Peristiwa besar terjadi di negara Indonesia. Waktu itu usiaku masih 5 tahun, masih tak tahu apa-apa, menyadari sampai dua tahun terakhir masih belum mau peduli dgn hal-hal itu, dan sekarang masih mencoba mencari tahu dari berbagai macam sumber.

Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998 setelah banyak aksi demonstrasi, kerusuhan dan kekacauan politik, ekonomi dan militer, digantikan oleh wakilnya Habibie. November 1998, Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) menggelar Sidang Istimewa MPR, sidang yg dilakukan jika presiden dianggap melanggar UUD 1945 dan menyimpang dari GBHN, kali ini membahas agenda pemerintah untuk melakukan percepatan pemilihan umum.

Masyarakat dan mahasiswa bergolak karena tidak mengakui pemerintahan BJ Habibie, tidak percaya dgn anggota DPR/MPR Orde Baru serta menentang dwifungsi ABRI/TNI. Sepanjang dilakukannya Sidang Istimewa MPR, masyarakat dan mahasiswa bergabung melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lain. Di Jakarta, aksi demostrasi ini dihadang oleh penjagaan militer, brimob dan pengamanan swakarsa. Tak ayal, terjadilah bentrok masyarakat dan mahasiswa dgn Pamswakarsa di kompleks Tugu Proklamasi tanggal 11 November 1998.

Ribuan mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju gedung DPR/MPR tanggal 12 November 1998 dari segala arah tetapi gagal ditembus karena pengamanan sejumlah militer. Malam harinya, kembali terjadi bentrok yg menewaskan seorang pelajar bernama Lukman Firdaus. Di hari berikutnya, 13 November 1998, massa yg kembali bergerak, kembali dibubarkan oleh militer. Sejumlah mahasiswa mencoba bertahan dan terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat ketika ribuan mahasiswa sedang duduk di jalan. Saat itu beberapa mahasiswa tertembak dan meninggal. Wawan, putra ibu Sumarsih tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yg terluka di pelataran parkir kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore hingga jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan kampus Atma Jaya. Peristiwa itu menewaskan 17 orang, baik mahasiswa, pelajar SMA, anggota pamswakarsa dan masyarakat sipil. Sementara 456 korban mengalami luka-luka akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, tajam/tumpul. Selanjutnya peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Semanggi I.

Betapa besar perjuangan ibu Sumarsih menuntut keadilan atas meninggalnya putra beliau dalam kasus pelanggaran HAM 1998. Someday, I think I should read Matt or Ibunda (versi terjemahan Pramoedya Ananta Toer) by Maxim Gorky  to see another story of the struggle of a woman as a mother in a labor rebellion.


--


kamisan-454 11 Agustus 2016, dokumentasi twitter @AksiKamisan , ada aku & Ryal lho :)


Kurang lebih satu jam berdiri di depan Istana, massa aksi Kamisan berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Dipimpin oleh seorang koordinator aksi, siapapun, peserta aksi Kamisan diperbolehkan melakukan refleksi (berbicara di tengah lingkaran) atas apa yg ia pikir atau rasakan setelah berpartisipasi dalam aksi Kamisan.

Tak jarang, mereka yg mau dan berani melakukan refleksi bertutur bahwa dirinya baru pertama kali ikut Kamisan (sepertiku). Pertama kali tau dan pertama kali datang karena diajak teman.
Baru tau kalau ternyata “ada” aksi semacam ini. Sebuah aksi menuntut dan memperjuangkan keadilan. Yg bahkan tak pernah lelah dan tak pernah berhenti, meski peserta aksi tak seriuh aksi demostrasi pada momentum-momentum tertentu. Tapi selalu ada yg bertahan, selalu ada yg masih mau berjuang.

Menyadari bahwa ternyata negara ini belum sepenuhnya menunaikan kewajibannya. Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Jika kamu penasaran (dan sebaiknya penasaran), berdialoglah dgn peserta aksi lain. Biasanya akan kamu temui satu dua orangtua keluarga korban. Ceritanya bermacam-macam tapi nafas mereka satu, menuntut keadilan. Mendengar langsung cerita dari mereka yg mengalami, akan terasa lebih menggetarkan hatimu. Sejenak kau bisa bersyukur atas hidupmu yg tak sama atau mungkin lebih baik, kemudian semangat perjuangan itu akan menular.


keluarga korban pelanggaran HAM yg ikut Kamisan, dokumentasi twitter @AksiKamisan


Pria-pria pembawa kamera yg biasanya berambut gondrong sibuk mengambil gambar. Mungkin fotografer, mungkin wartawan, entah, aku tak pernah bertanya -- ya kan datengnya sama Ryal, masa lirik-lirik cowok lain, lol
Kadang ada juga orang-orang yg datang dari luar Jakarta, mahasiswa, pelajar SMA, beberapa orang LBH, KontraS, Arus Pelangi, korban 65, dan mungkin organisasi-organisasi sejenis lain yg terus aktif berpartisipasi dalam aksi ini. Keberadaan anak-anak muda dianggap sebagai sebuah optimisme bahwa masih ada orang yg mau mencoba mencari tahu, peduli, syukur-syukur ikut berkontribusi dalam advokasi keluarga korban, atau minimal menyebarluaskan keberadaan aksi ini. Kami #menolaklupa

Aksi Kamisan dikenal cukup luas, beberapa public figure pun kerap ikut berpartisipasi seperti Arie Kriting, Pandji Pragiwaksono, Melanie Subuno, bahkan musisi Efek Rumah Kaca. Beberapa lagu diciptakan musisi Simponi terinspirasi aksi Kamisan.


--


Pertama kali datang ke Kamisan tanggal 11 Agustus 2016, Kamisan-454. Masih belum sadar juga kalau ternyata tiap aksi Kamisan memiliki tema tertentu.
Hari itu saat hendak melakukan refleksi, ada aparat polisi yg mencoba menghentikan aksi kami, alasannya karena menggunakan toa atau pengeras suara, dan malah diminta pindah tempat aksi (geser ke Taman Aspirasi). Video di laman facebook Kamisan.

Refleksi terus dilanjutkan, satu dua orang baru menyampaikan pendapatnya. Orang-orang lama juga mengobarkan semangat perjuangan. Satu kalimat terikan yg berarti bagiku yg kudengar hari itu,


“Kami pemuda/pemudi Indoensia, berbahasa satu, bahasa KEJUJURAN.”


Satu kata yg baru aku tau dari Kamisan adalah impunitas yg artinya keadaan tidak dapat dipidana. Kekebalan hukum.


--


Kamisan kedua, Kamisan-458, tanggal 8 September 2016. Tema kali ini  #MerawatIngatan #12thMunirDibunuh.
Hari itu datang juga ibu Suciwati, istri almarhum Munir dan menyampaikan refleksi. Video di twitter @AksiKamisan

Said Munir Thalib atau Munir adalah seorang aktivis HAM, yg meninggal 7 September 2004, dibunuh diracun di pesawat GIA ke Belanda di usia 38 tahun. Ada lagunya, Di Udara, Efek Rumah Kaca.

Menjabat Dewan KontraS, memperjuangkan orang-orang yg hilang dan diculik pada masa lalu. Beliau membela para aktivis yg menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yg selanjutnya setelah Soeharto turun tahta, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Dirjen Kopassus Prabowo Subianto. Pollycarpus sebagai eksekutor atau pembunuh telah diadili dgn vonis 20 tahun penjara. Namun dgn banyak remisi, sekarang dia telah bebas. Sedangkan dalang kasus pembunuhan Munir hingga sekarang belum tuntas diusut pihak pemerintah.


Suciwati, istri cak Munir di Kamisan-458 


--


Terbaru, Kamisan yg aku datangi, tanggal 11 Januari 2018 lalu, Kamisan-521, 9 bulan Novel Baswedan. Seorang penyidik KPK yg disiram air keras oleh pelaku tak dikenal dan menimbulkan luka di salah satu matanya. Meski sudah mendapatkan perawatan dan kondisinya sudah membaik, tapi pemerintah terutama kepolisian seakan tidak serius mengusut tuntas kasus ini bahkan belum selesai sampai sekarang. Jika seorang penyidik, yg sedang berjuang mengungkap kasus korupsi di negara ini saja tak bisa mendapatkan perlindungan hukum yg layak, apakah memang negara tidak bisa menjamin keamanan dan perlindungan bagi tiap rakyat? Yg jelas semangat membela kebenaran tak pernah padam bagi mereka yg percaya. Justru, Novel Baswedan menjadi simbol lain atas perjuangan penegakkan kebenaran.

Dalam Kamisan-521, JSKK membuat Surat Terbuka untuk Presiden dgn tuntutan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta yg bersifat independen untuk mempercepat pengungkapan penyerangan Novel Baswedan.


--


Hingga artikel ini ditulis dan dipublikasikan, 3 Mei 2018, Kamisan menyuarakan tagar Jokowi akan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di bulan May #MayBeYesMayBeNo.
Juga banyak hal mengenai #20thReformasi yg sedang dibuat viral, mungkin lain waktu aku hendak mengulik ttg hal ini.


--


Kamisan membuka mataku mengenai kondisi negara ini yg belum sepenuhnya memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sekaligus memperlihatkan sosok-sosok yg masih punya semangat perjuangan membela haknya, memperjuangkan keadilan dan meperjuangkan kebenaran.
Walau sekali waktu aku pernah mendapat komentar: “cieeee aktivis” yg sungguh annoying. Alih-alih berkomentar, apakah tidak sebaiknya kita mulai mencari tahu lebih banyak tentang apa itu aksi, mengapa mereka melakukannya, apa yg mereka perjuangkan, apa yg mereka harapkan, apa yg bisa kita lakukan kemudian?

Aksi Kamisan juga telah digelar di berbagai kota besar di Indonesia, bisa dicari tahu lebih lengkapnya di website maupun akun twitter resminya @AksiKamisan yg sangat aktif hingga sekarang.


--


Aku hanya warga negara Indonesia biasa, yg masih ingin terus belajar, memahami dan peka dgn lingkungan serta orang lain, sedang Ryal adalah sesoorang yg berpegang pada keyakinan untuk  terus berusaha memanusiakan manusia.




Hidup Korban! Jangan Diam!
Jangan Diam! LAWAN!
Jokowi, Hapus Impunitas!








Kamisan-454
Kamisan-454
Kamisan-458
Kamisan-458
Kamisan-521